================================================= RATUSAN SANTRI PESANTREN WALI SONGO POSO DIBANTAI ================================================= Selasa, 13 Juni 2000, 17:15 WIB Poso Menangis, Ratusan Nyawa Melayang di Pesantren Wali Songo Jakarta, KCM Kota Poso sedemikian mencekamnya. Kabar duka dari Desa Togolu, Kecamatan Lage, Poso, begitu menggetarkan hati semua warga. Ratusan nyawa telah melayang di pesantren Wali Songo yang terletak di wilayah itu, belum lagi mereka yang luka-luka dan melarikan diri penuh dengan ketakutan. Begitulah kesaksian Nyonya Ani, istri komandan Kodim 1307 Poso saat dihubungi KCM per telepon di kediamannya di Poso. "Sejak meletus kerusuhan, saya tidak berani ke mana-mana," tuturnya. Nyonya Ani lalu menuturkan, untuk belanja pun ia tak berani pergi ke pasar. "Biasanya saya beli bahan-bahan untuk dimasak kepada pengungsi yang banyak berlindung di kantor Kodim. Ayam, kambing. Harganya terserah kita," haru Nyonya Ani menuturkan, betapa kemanusiaan sudah sebegitu murahnya di tanah Poso. Letkol Inf. Budiarjo, Komandan Kodim 1307 Poso sampai berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi mengenai perkembangan terakhir di wilayahnya. "Mayat yang sudah teridentifikasi sekitar 200 orang," demikian Nyonya Ani menjelaskan. Sementara, Kantor Berita Antara menuturkan, ratusan penghuni pesantren Wali Songo di Kilometer Sembilan (Desa Togolu) Kecamatan Lage Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, "hilang" dan diduga kuat lari menyelamatkan diri saat Kelompok perusuh melakukan penyerangan tanggal 28 Mei 2000. Sejumlah saksi mata yang ditemui Antara di Palu dan Poso--205km timur Palu Senin mengatakan, penyerangan kelompok perusuh hari Minggu itu di pondok pesantren tersebut mengakibatkan banyak korban tewas, namun beberapa di antaranya berhasil menyelamatkan diri lari ke hutan-hutan di sekitar pasantren itu. Para saksi mata tidak merinci jumlah korban yang dibantai di tempat itu, namun mereka memperkirakan sebagian besar dari puluhan mayat yang hanyut di Sungai Poso adalah penghuni pondok pesantren Wali Songo. Bahkan salah seorang aparat keamanan setempat mengatakan lima dari puluhan mayat penuh bacokan sekujur tubuhnya dan terikat menjadi satu yang ditemukan mengapung di Sungai Poso kemungkinan adalah penghuni pondok pesantren itu. Komandan Kodim 1307 Poso Letkol Inf Budiardjo kepada Antara di Poso Senin, saat mendampingi Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro mengatakan, belum dapat memastikan nasib ratusan penghuni pesantren itu. Namun ia membenarkan bahwa jika mengacu kepada laporan stafnya di lapangan memang benar terjadi penyanderaan dan pembantaian di pesantren Wali Songo. Pasukan TNI yang tergabung dalam "Operasi Cinta Damai' kini sibuk mengumpulkan bukti-bukti pembantaian di sekitar pesantren itu dan menurut Dandim Budihardjo akan segera ditindak-lanjuti setelah pihak TNI melakukan operasi pembersihan di kawasan itu. Budiardjo mengatakan TNI-Polri juga masih melakukan penyelidikan intensif terhadap mayat-mayat yang belum diidentifikasi petugas sekalipun sebagian besar sudah dikuburkan di pemakaman Tegal Rejo. Ketika ditanya jumlah mayat yang ditemukan petugas di Pesantren Wali Songo, Budiardjo mengatakan belum tahu pasti sebab setiap ada mayat yang ditemukan setelah dirawat seadanya langsung dimakamkan. "Saya memperkirakan mayat-mayat yang ditemukan hanyut di Sungai Poso berasal dari sana (Pesantren Wali Songo) sebab lokasi pasantren tersebut berada di bagian hulu Sungai Poso," katanya. Berdasarkan data sementara, jumlah mayat yang ditemukan Penduduk sudah mencapai 146 sosok dan 60 sosok di antaranya ditemukan penduduk mengambang di Sangai Poso, dan yang lainnya ditemukan penduduk di tiga titik bentrokan, yakni Kelurahan Sayo, Kelurahan Mo'engko dan Desa Malei di pinggiran selatan kota Poso. Wartawan Antara melaporkan dari Poso bahwa hingga hari Senin di lokasi pasantren itu masih tercium bau bangkai. Bau sangat menyengat juga tercium di sepanjang poros jalan Poso-Parigi di Kecamatan Poso Pesisir terutama di daerah rawa yang ditumbuhi banyak pohon sagu. Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro mengatakan bahwa pihaknya sudah memerintahkan Kodim Poso untuk mengusut tuntas kasus pembataian di pesantren Wali Songo itu. "Saya telah memerintahkan Dandim 1307 Poso (Letkol Inf Budihardjo) untuk mengusut tuntas kasus ini," kata Jenderal berbintang dua itu.jy Source : Kompas Cyber Media ============================= PASUKAN PEMBANTAI MUSLIM POSO ============================= Jejak Kelalawar Hitam, Pembantai Muslim Poso Ratusan Muslim Poso dibantai, pelakunya adalah kelompok orang terlatih bernama Kelalawar Hitam. Investigasi Sahid di lapangan menunjukkan selain dipicu persoalan politik lokal ada keterlibatan tokoh-tokoh di Jakarta. Puluhan warga Pesantren Walisongo itu dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling ditautkan. Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segarpun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai. Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri. Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian ummat Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an orang yang tinggal. Mulai dari ustadz , santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya. Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren itu. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah. Pesantren Poso hanya tinggal puing-puing belaka. Ilham (27) satu-satunya ustadz Pesantren Walisongo yang turut dibantai namun selamat setelah mengapung beberapa kilometer mengikuti aliran sungai Poso, menuturkan kepada Sahid, sebelum dibantai mereka mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Mereka dikumpulkan di dalam masjid Al Hirah. Di sanalah warga pesantren Walisongo yang sudah menyerah itu dibantai. Ada yang ditebas lehernya, dipotong anggota badannya, sebelum akhirnya diangkut truk ke pinggir Sungai Poso. Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian ummat Islam, khususnya warga Pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka hanyut di Sungai Poso dan terbawa entah sampai ke mana. Belum ada angka yang pasti jumlah korban dalam pembantaian itu. Seorang warga Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, Syahrul Maliki, yang daerahnya dilewati aliran sungai Poso dan terletak sembilan kilometer dari ladang pembantaian, menuturkan kepada Sahid, Dari pagi hingga siang saja, saya menghitung ada 70-an mayat yang hanyut terbawa arus, berikutnya saya tidak menghitung lagi, katanya. Sementara Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) melaporkan jumlah mayat yang ditemukan di Sungai Poso tidak kurang dari 165 orang. Tidak hanya lak-laki dewasa, banyak pula yang perempuan, orang tua, dan anak-anak. Biasanya mayat wanita disatukan dengan anak-anak. Ada yang cukup diikat, ada pula yang dimasukkan karung, kata Syahrul. Sebagian besar mayat sudah rusak akibat siksaan. Menurut Ilham, sebelum diserang, warga pesantren diteror oleh Pasukan Merah ini. Komplek Pesantren Walisongo sering dipanah. Hingga saat ini bekas panah tersebut masih terlihat jelas. Pembantainya sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal sebagai Pasukan Kelalawar Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepala merah. Karena itu pula mereka sering disebut pula sebagai Pasukan Merah. Pembataian itu puncak dari hubungan ummat Islam dan Kristen yang kurang harmonis di kawasan itu. Tercatat sekitar 200 - 400-an orang yang tewas terbantai. Dalam laporannya, pihak gereja melalui `Crisis Center GKST untuk Kerusuhan Poso' mengakui dikalangan mereka ada kelompok terlatih yang berpakaian ala ninja ini. Mereka menyebutnya sebagai `Pejuang Pemulihan Keamanan Poso'. Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah menyerang. Mereka selalu mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam, semua tertutup kecuali mata. Mereka juga mengenakan atribut salib di dada dan ikat kepala merah. Mayat-mayat juga ditemukan selalu dalam kondisi rusak akibat siksaan atau sengaja dicincang hingga tidak dikenal identitasnya. Dalam berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas angin. Karena itu sebagian besar korbannya adalah orang-orang muslim. Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan pembantaian juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim kampungnya hancur dan terbakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Malei. Dari arah barat hingga Tamborana. Temuan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) Ujungpandang yang melakukan investigasi di Poso menunjukkan adanya keterlibatan gereja dalam beberapa kerusuhan. Buktinya Sebelum mereka melakukan penyerangan, mereka menerima pemberkatan dari gereja, kata Agus Dwikarna, ketua Kompak Ujungpandang. Misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di gereja Silanca (8/6/00) dan Pendeta Rinaldy Damanik di halaman Puskesmas depan Gereja Sinode Tentena. Selain kepada pasukan Kelelawar Hitam, pemberkatan juga diberikan kepada para perusuh. Pemberkatan ini memberikan semangat dan kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada ummat Islam. Yang menarik menurut Agus, meskipun mereka mengakui telah membumi hanguskan seluruh perkampungan ummat Islam dan membantai masyarakatnya, Pendeta R Damanik dan Advent Lateka mengadukan ummat Islam sebagai provokator. Kini kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau terbesar ini nyaris seperti kota mati karena ditinggal penduduknya mengungsi, bangunan yang ditinggalkan hanya tersisa puing-puing yang beserakan. Penyerangan terhadap ummat Islam yang berlangsung sejak tanggal 23 Mei lalu, merupakan pertikaian ketiga antara Islam Kristen di Poso. Pertikaian pertama berlangsung pada Desember 1998. Enam belas bulan kemudian, 15 April 2000 pertikaian meledak lagi, yang dipicu perkelaian pemuda Kelurahan Kamayanya (muslim) dengan Lambogia (Kristen). Dalam penyerangan kali ini kelompok merah yang bergabung dalam pasukan Kelelawar Hitam dipimpin oleh Cornelis Tibo asal Flores menyerang kampung Muslim Kayamanya. Mereka memukul-mukul tiang listrik hingga memancing kemarahan ummat Islam. Selanjutnya mereka mengaiaya ummat Islam di situ dan membunuh Serma Komarudin. Ummat Islam yang marah mengejar Pasukan Kelelawar Hitam yang lari ke Gereja Katolik Maengkolama. Karena bersembunyi di gereja itu ummat Islam yang marah membakar gereja yang dijadikan tempat persembunyian itu. Salah satu yang dianggap menjadi penyebab pertikaian adalah konflik politik lokal. Perebutan jabatan Bupati Poso pada Desember 1998 merupakan salah satunya. Herman Parino, tokoh Kristen, gagal merebut jabatan. Namun Herman Parino dan para pendukungnya menuduh Arif Patangga, bupati yang hendak digantikannya, muslim, merekayasa gagalnya Parino. Karena jengkel, Parino menggalang massa untuk menyerang rumah Patangga. Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya, para pendukung Patangga tidak diam dan bersiap menyambut. Bentrokan tidak terelakkan lagi. Dua hari kemudian giliran pendukung Patangga menyerang rumah Parino di desa Tentena. Dalam kerusahan itu polisi langsung menangkap tokoh dari kedua belah pilah, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik kandung Arif Patangga yang dianggap memprovokasi massa. Nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan tokoh Kristen yang dihormati membuat pendukungnya kecewa. Apalagi Herman lantas dijatuhi hukuman, meskipun Agfar juga dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri Poso. Kasus inilah yang menjadi api dalam sekam. Maka ketika terjadi perkelaian pemuda Islam dan Kristen yang mabuk pada pertengahan April 2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat terhindarkan. Dipicu kerusuhan pada bulan April, tanggal 23 Mei 2000 pasukan merah melakukan penyerangan ke beberapa perkampungan muslim. Pertikaian tidak hanya sebatas para pendukung Herman Parino dan Arif Patangga. Perkampungan Muslim yang tidak ada kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya ikut dihancurkan, warganya dibantai, perempuannya diperkosa. Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan bahwa kerusuhan di Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh di Jakarta. Salah satu kekuatan yang bermain itu adalah kelompok Soeharto. Indikasinya jika proses hukum Soeharto meningkat, tingkat kerusuhan meningkat. Temuan di lapangan menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan TNI dalam melatih pasukan merah. Karena itulah pasukan merah sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata api maupun tangan kosong. Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang berkepentingan terhadap kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana yang kuat. Kasus beredarnya milyaran uang palsu dan hilangnya dua kontainer kertas uang yang hingga kini belum ditemukan juga sangat terkait dengan berlangsungnya kerusuhan di Poso ini. Informasi sumber intelejen tersebut juga dibenarkan oleh Wakapolda Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang menyatakan keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam anggota TNI AD dalam kerusuhan itu. Mereka kini sedang ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Agus Dwikarna tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso hanya persoalan gagalnya Herman Parino menjadi bupati. Kalau hanya karena perebutan kursi bupati kenapa ummat Islam yang dibantai, tanya Agus. Ia yakin ada upaya melenyapkan ummat Islam dari bumi Poso. Apapun penyebabnya, kerusuhan Poso menyebabkan trauma yang mendalam di kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak kerusuhan itu ribuan ummat Islam menjadi pengungsi di negerinya sendiri. Haryono, laporan Munanshar dan Pambudi (Poso) =============================================================== KISAH USTADZ PESANTREN WALI SONGO YANG SELAMAT DARI PEMBANTAIAN =============================================================== Kisah Pengasuh Ponpes Wali Songo Poso Yang Selamat Diikat dan Disiksa, Lolos Lewat Sungai Kasus pertikaian di Poso tidak hanya membawa korban dan kerugian materil, tapi juga menjadi beban masyarakat lain yang tidak berdosa. Berikut cerita yang disajikan dalam gaya bertutur dari dua pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo, Ilham (23) yang selamat dari penyanderaan, setelah Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Songo dibumihanguskan. PADA saat itu hari Kamis (1/6) kami masih berada di hutan bersama adik-adik (santri, red) yang lain. Setelah ditangkap, mereka memisahkan kami. Perempuan jalan terus, sedangkan kami disuruh tetap tinggal di hutan. Setelah adik-adik santri dan ibu-ibu pergi, kami semua disuruh buka baju. Tangan kami diikat satu per satu. Jumlah kami saat itu ada 28 orang, menurut hitungan mereka (penyandera, red). Terdiri dari enam orang dari pesantren dan penduduk biasa. Setelah diikat dengan tali nilon, kabel atau sabut kelapa, kami digandeng tiap lima orang. Saya sendiri diikat tiga ikatan. Kami digiring jalan melewati hutan, tembus di suatu desa Lembomao. Di sana kami berhenti sebentar. Mereka kayaknya memanggil pemimpinnya. Saat itu juga pemimpinnya keluar dan memerintahkan anggotanya untuk membawa. Kami digiring lagi berjalan melewati jembatan gantung tembus di desa Ranononcu, terus dibawa ke Baruga. Di sana kami disiksa dalam keadaan berdiri, berbanjar membuat dua barisan. Setelah itu tangan kami ditambah ikatannya. Saya sendiri diikat dengan tali sabut kelapa kemudian ditambah dengan tali nilon warna biru, kemudian diikat dengan kabel. Setelah itu kami disiksa dengan begitu sadis. Badan kami diiris-iris, ditendang, dipukul, pokoknya sudah segala macam penyiksaan, ada yang dipukul dengan gagang pedang, ada yang dengan popor senjata. Saya sudah tidak tahu lagi dengan alat apa semua yang mereka gunakan memukul kami. Setelah disiksa mereka mengeluarkan pertanyaan kepada kami. pertanyaan pertama. Siapa yang tahu mengaji? Pertanyaan kedua siapa guru mengaji? Dan yang ketiga, siapa yang pernah naik mimbar, dan pertanyaan keempat, siapa yang imam. Pada saat itu, kami tidak ada yang mengaku. Setelah disiksa, badan-badan kami diiris dan setelah ditaruh tanah, disiram air panas. Sekitar kurang lebih dua jam kami disiksa di tempat itu, kami dinaikkan ke mobil. Mereka tujukan ke arah atas. Menurut pengamatan kami saat itu ke arah Desa Togolu. Sampai di situ mereka giring ke pinggir kuala Poso. Sampai di pinggiran kuala kami disuruh turun. Saya sendiri loncat dari mobil tersebut. Saya melihat teman saya sudah dibacok satu orang. Dan saat itu, saya langsung mengambil keputusan, berlari menuju kuala tersebut yang jaraknya kurang lebih 10 meter. Sebelum kami turun dari mobil, mereka sudah berdiri untuk menjaga kami di pinggir kuala tersebut. Yang anehnya bagi saya. Mungkin sudah gerakan Allah, pada saat saya lari di antara mereka tidak ada yang bergerak. Sekitar satu meter lagi dari pinggiran kuala, saya sudah terjun. Dan tiba-tiba ikatan yang mengikat tangan saya terlepas. Setelah saya terjun ke kuala baru mereka mengambil gerakan. Ada yang menembak, tapi alhamdulillah -saya berenang, muncul lagi untuk mengambil nafas sedikit, mereka menembak lagi. Menyelam lagi saya, sampai waktunya sekitar satu menit, baru saya sampai ke seberang kuala, dalam kondisi badan saya yang sudah teriris-iris. Setelah saya sampai, saya langsung naik ke daratan. Lari ke hutan. Saya perkirakan dan melihat mereka tidak kelihatan lagi, saya balik ke kuala . Saya masuk melebur kembali mencari tempat yang aman - mendapatkan pinggir kuala, ada rumput yang menutup. Saya masuk di semak-semak rumput tersebut. Badan saya setengah dalam air, setengah di atas. Dan saat itu mereka mengadakan pencarian pada saya. Mereka lewat, saya lihat mereka. Tetapi mereka tidak melihat saya. Pada saat itu waktunya, saya perkirakan jam 04.00 sore. Sekitar dua jam saya merendam di kuala, untuk menunggu waktu malam. Setelah malam, saya naik ke darat untuk mengambil alat renang. Saya cabut pohon pisang. Setelah saya cabut, saya langsung buang ke kuala, saya gunakan untuk membantu berenang. Baru sekitar 10 meter saya berenang, mereka sudah hadang di depan dengan senternya yang begitu terang. Saya melihat senter mereka itu seperti senter mobil. Jadi tidak mungkin pakai baterei, mungkin sudah memakai accu (aki, red) atau alat canggih lain. Pada saat itu saya lepaskan pohon pisang yang saya pakai. Saya menyeberang kembali, mendekati kembali pinggiran kuala tersebut. Setelah itu tiba-tiba saya lihat ada tiga orang yang lewat kuala. Mungkin teman-teman saya, yang masih ada di hutan, yang belum tertangkap pada saat itu. Dan alhamdulillah, tiga orang lewat itu lolos. Kemudian lewat lagi tiga orang naik perahu, dan ini kelihatan oleh pengejar. Mereka langsung mengejar dengan perahu pula. Dua yang lolos pada saat itu. Satu orang tertangkap. Dia berteriak-teriak "Saya tidak salah". Kedengarannya mereka menyiksa. Dan pada saat itu tiba-tiba terdengar suara letusan. Dan teriakan itu langsung lenyap. Setelah itu, saya berpikir, berarti saya ini akan tertangkap juga kalau saya teruskan untuk berenang. Saya ke darat dan duduk berdoa. Ya Allah turunkan lah hujan, ya Allah. Supaya mereka menghindar dari pinggiran kuala tersebut. Dalam kurun waktu kurang lebih setengah jam, yang awalnya bintang-bintang lengkap di langit. Tiba-tiba gelap dan langsung turun hujan. Setelah hujan turun, saya berlari ke atas sekitar 20 meter. Kemudian saya masuk lagi ke dalam kuala, dan saya lanjutkan berenang. Dalam jarak 10 meter lagi saya berenang ke bawah, ada lagi mereka yang menghadang di depan. Saya naik lagi ke daratan. Duduk saya di daratan berkisar kurang lebih satu jam. Badan saya kayaknya sudah tak mampu lagi digerakkan, dengan merasakan luka, kedinginan. Rasanya badan saya sudah tidak bisa lagi bergerak. Pada saat itu, saya berpikir. Kalau siang di sini, saya sembunyi dimana lagi. Setelah pemikiran itu muncul kepasrahan, saya berdoa: bismillahi tawaqqaltu alallahi la haula wala quwata illah billah. Saya berdiri, lalu mencari alat bantu renang lagi. Alhamdulillah, saya ketemukan satu biji kelapa kering. Saya bawa kembali ke kuala. Setelah saya masuk, melebur kembali ke kuala, rasanya badan ini sudah kuat kembali. Tangan dan kaki saya, yang semula sudah tidak mampu digerakkan, setelah saya melebur ke kuala, badan saya terasa pulih kembali. Kayaknya tidak ada luka yang melekat. Setelah itu saya berenang sampai melewati pinggir kuala tersebut. Setiap pinggiran kuala tetap juga mereka jaga. Tetapi sudah tidak terlalu ketat. Karena hujan turun terus. Saya temukan jembatan yang saya lewati pertama pada saat kami menuju di desa Ranononcu itu. Mereka berjaga di jembatan itu, alhamdulillah saya masih sempat lolos. Kemudian terus lagi, menemukan lagi jembatan satu. Yang pertama jembatan gantung Ranononcu dan yang kedua jembatan gantung Lembomawo. Setelah itu, saya terus lanjutkan berenang. Dan apabila mereka mencari, menyenter dari sebelah, saya menghindar, menyeberang ke sebelah. Jadi, saya memotong-motong kuala Poso itu, yang jaraknya, yang disebut orang sering ambil korban manusia, ada buaya kayaknya sudah tidak lagi saya pikirkan. Setelah itu, saya tiba di jembatan II Poso, yang direncanakan untuk dijadikan "kriminal dua". Setelah mendekati jembatan tersebut, saya melihat pancaran cahaya. Lampu mereka begitu terang. Mereka memakai lampu sorot. Mereka pancarkan ke kuala tersebut. Kualanya terang sekali. Jadi apapun yang lewat, kayu sepenggal pun yang lewat, kelihatan dalam kuala tersebut. Tetap saya terus dan berhenti di jembatan tersebut. Saya berhenti di bawah jembatan dan berdiri serta duduk bergantian sambil berpikir, bagaimana caranya bisa lolos. Sedangkan kuala ini terang sekali. Berpikir saya di situ sekitar satu jam. Bagaimana caranya, tidak ada hasil. Kayaknya, secara jernih saya tidak mampu lagi untuk berpikir, bagaimana caranya untuk lolos. Setelah itu, saya terpikir dalam satu firman "Jangan takut Allah bersama kita". Saya membaca doa bismillahi tawaqqaltu alallahi la haula wala quwata illah billah. Segala daya dan kekuatan saya serahkan kepada Allah sepenuhnya. Muncul keyakinan saya pada saat itu, saya langsung meloncat berenang ke kuala. Setelah saya mendekati lampu tersebut, tiba-tiba lampunya langsung mati. Saya berpikir jangan-jangan saya dijebak, dengan sengaja mematikan senter, agar saya terus berenang. Dan setelah melewati tempat terang tersebut baru lampunya menyala. Tidak tahu mengapa lampu mereka mati. Berarti mereka sebenarnya bukan menjebak saya. Tetapi memang benar lampunya mati pada saat itu. Mungkin sudah digariskan oleh Allah. Sudah memberikan pertolongan pada saat itu kepada saya. Sebagai manusia biasa, yang sudah luka parah, muka saya sudah hancur dipukul, mungkin tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tapi kekuatan yang ada, saya melanjutkan berenang melewati jembatan dan tiba-tiba saya mendengar suara azan. Berarti menandakan waktu subuh atau pagi telah tiba. Saya makin cepat berenang sebelum terang, karena kalau sudah siang mereka akan temukan saya. Sekitar pukul 6 pagi saya mendengar suara pengumuman yang menyebutkan nama kompi. Saya berpikir bahwa itu adalah asrama tentara dan langsung mendekati. Di dekat lokasi asrama saya melihat seorang pemuda dan saya tanyakan asalnya. Saya juga tanya mengapa ada disini dan pemuda itu mengatakan dirinya pengungsi. Saya tanya lagi agamamu apa, dan dia menjawab agama Islam. Disaat dia menjawab Islam, saya langsung mengatakan tolong, dan dia pun langsung menolong saya membawa ke asrama kompi dan dirawat. Pada saat disiksa, saya melihat seorang aparat tentara yang juga saya sudah pernah lihat sebelumnya. Waktu di kompi saya juga melihat tentara itu, kami sempat berpapasan mata kemudian tentara itu langsung pergi. Saya periksa di semua ruangan tentara itu tidak ada. Saya yakin dia adalah tentara yang saya lihat ketika saya disiksa. (ud/jpnn) Source : Riau Pos Rabu, 14 Juni 2000 ======================================================= DOMINGGUS SOARES AKUI BANTAI SANTRI PESANTREN WALISONGO ======================================================= Dominggus Akui Pembantaian Santri Pesantren Walisongo Ulah Pasukan Merah Rabu, 02 Agustus 2000, @08:08 WIB Palu -- Ini dia 'orang yang paling dicari' setelah Tibo. Usai menyerahkan diri ke Polsek Beteleme, Senin (31/7) sore, dengan kawalan ketat Resimen I Brimob, Bogor, Selasa (1/8) siang, Dominggus tiba di Mapolda Sulteng, Palu. Melihat sosoknya dari dekat, gambaran seorang pembunuh segera membayang. Bagaimana tidak, kulitnya legam, bicaranya tegas namun singkat, tatapannya dingin. Dan, yang paling seram, pembawaannya cuek, bahkan sedikit terkesan angkuh. Dijumpai di ruang kerja Wakapolda Sulteng, sosok kekar dengan wajah sangar itu, bertutur tentang siapa ia sesungguhnya. Berikut kutipannya: Bagaimana Anda bisa ditangkap? Menurut saya, ini bukan penangkapan. Tapi, saya datang menyerahkan diri untuk cari jalan yang bagus. Jadi, apa yang bengkok, harus diluruskan kembali. Soal pembunuhan sejumlah orang, apa saudara yang lakukan? Itu bukan pembunuhan, itu korban peperangan Pak! Terus siapa yang lakukan? Oh, itu banyak. Itu massa. Massa dari mana? Ya, antara Kelompok Merah dan Putih. Istilahnya korban perang. Apa yang mendorong Anda ikut kasus ini? Oh, itu spontanitas. Apakah ada orang yang diajak? Tidak ada. Anda dibayar? Tidak ada. Sama sekali tidak. Ini spontanitas. Siapa yang ajak Anda untuk berperang? Tidak ada yang ajak. Ada kerjasama dengan Tibo? Tidak ada. Selama ini tidak ada komunikasi dengan Tibo? Sering komunikasi. Tapi, sekali-sekali di lapangan saja. Sebelum menyerahkan diri, tinggal di mana? Saya tinggal di sekitar Desa Jamur Jaya. Apakah Anda pindah-pindah? Tidak. Saya tinggal di satu tempat saja. Nama lengkapnya? Dominggus Nama lain? Cuma itu saja, Dominggus. Berapa umurnya? 33 tahun. Lahir di mana? Timor. Di Maumere. Pekerjaannya? Mekanik. Di mana? PT. Inco International. Di Sulawesi Selatan. Sejak kapan di Desa Jamur Jaya? Sejak tahun 1991. Sudah kawin? Belum. Masih bujangan. Berapa orang yang Anda bunuh atau yang berduel dengan Anda? Oh, kalau jumlah orang saya tidak tahu. Kalau yang berhadapan dengan Anda dan jatuh jadi korban, berapa? Tidak ada. Kalau mayat-mayat yang ada di Pesantren Wali Songo itu, Anda tahu? Iya, saya tahu. Yang membunuh mereka? Ya, massa. Kelompok Putih atau Merah? Merah. Apakah di atas Anda, ada pimpinan yang lain? Tidak ada. Kapan Anda menyerahkan diri? Kemarin. (Senin, 31/7-red) Jam berapa? Lima sore. Apa ini karena Anda mendengarkan anjuran Tibo untuk menyerahkan diri? Iya. Itu juga karena jalan yang terbaik. Sebelum kerusuhan, apakah Anda sering berhubungan dengan Tibo? Tidak ada. Ketemunya waktu kerusuhan. Iya. Tinggalnya sama dengan Tibo? Iya. Satu desa. Tapi, tempat kerjanya lain-lain. Saya di Selatan (Sulawesi-red), dia di Tengah. Saya di Soroako. Di PT. Inco itu? Iya. Sebelumnya berdomisili di mana? Di Soroako Bukan di Beteleme? Bukan. Cuma saya punya kebun di trans, di Desa Jamur Jaya. Anda sekolah di mana? Saya tidak ada sekolah. Sejak kapan bekerja di PT. Inco? Sejak tahun 1991. Kalau di Sulawesi Selatan sejak kapan? Sejak tahun 1985. Ketemu Tibo kapan? Sesudah dia kerja di Tamaco. Kapan itu? Lama sekali. Mungkin 10 tahun lalu. Jika Anda dinyatakan bersalah, Anda siap dihukum? Oh, itu tunggu dulu, Pak! Karena ini spontanitas. Sejak kapan Anda terlibat di Poso? Sejak hari Selasa (23/5), yang ada pembakaran gereja itu. Konon Anda kebal senjata tajam? Enggak. Manusia ndak kebal parang. Cuma kuasa Tuhan ada. Anda memimpin satu kelompok? Tidak. Ini spontanitas, tidak ada pemimpin. Sejak kapan diangkat jadi panglima? (Sayang, ketika Dominggus tengah berpikir untuk menjawab pertanyaan ini, Wakapolda menghentikan wawancara). *** (far) ========================== PERNYATAAN PAHAM INDONESIA ========================== PUSAT ADVOKASI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA INDONESIA Jl. Cililitan Kecil III No. 46 RT 13/ 07 Jakarta Timur 13640 Ph. 021-9100618 DUKUNGAN UNTUK PENEGAKKAN HUKUM DALAM KASUS POSO Kasus Poso yang berlangsung hampir dua tahun sejak Desember 1998 dan terbagi atas tiga fase, masing-masing kerusuhan jilid I (25 - 29 Desember 1998) jilid II ( 17-21 April 2000) dan jilid III (16 Mei - 15 Juni 2000) serta telah menelan korban tewas hampir 300 jiwa, ratusan orang tak diketahui nasibnya, dan hampir 70.000 jiwa mengungsi adalah suatu tragedi kemanusiaan yang memilukan. Di saat bangsa Indonesia tengah menata diri untuk membentuk Indonesia baru yang lebih damai dan tenteram ternyata masih ada komponen bangsa yang bermain di air keruh, mengobarkan perpecahan, dan meluluhlantakkan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini kita hormati bersama. Lebih dari itu, realitas konflik berupa pembantaian massal (massacre), penyiksaan, dan pelecehan seksual terhadap wanita adalah suatu pelanggaran HAM kelas berat dan kejahatan kemanusiaan (crime against humanity) yang bertentangan dengan instrumen HAM nasional maupun internasional manapun. Pada konflik tersebut, hak manusia untuk hidup (right of live), untuk bebas dari rasa takut (freedom of fear), untuk bebas dari penyiksaan (conventian against torture), dan untuk bebas dari perbuatan yang tak bermartabat, seolah dilecehkan dan dinegasikan. Nafsu binatang dan kebengisan setan berganti menjadi tuhan-tuhan baru yang mesti diperturutkan segala kehendaknya. Inisiatif aparat keamanan untuk menghentikan kekerasan dan meminimalisir konflik adalah upaya yang patut diacungi jempol. Tertangkapnya sejumlah komandan lapangan seperti Fabianus Tibo, Dominggus Soares, dan Marinus adalah bukti bahwa aparat cukup reaktif dalam menghentikan konflik. Namun, yang perlu diingat, penangkapan dan penghentian kekerasan hanyalah satu fase saja dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Untuk dapat tegaknya hukum dan terlindunginya Hak Asasi Manusia, segala ikhtiar tersebut harus ditindaklanjuti dengan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pengadilan, dan penghukuman yang intensif dan optimal untuk para pelaku kejahatan. Kemudian, untuk para saksi dan korban, mesti dijalankan mekanisme perlindungan saksi, perlindungan dan rehabilitasi korban. Menanggapi masih minimnya ikhtiar untuk mengusut dan menyeret pelaku kejahatan Poso ke muka pengadilan, Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia menyatakan sebagai berikut: Mendukung segala ikhtiar aparat keamanan untuk menghentikan kekerasan dan meminimalisir konflik di Poso. Mendesak aparat penyelidik, baik polisi maupun polisi militer untuk meneruskan dan mengintensifkan penyelidikan dan penyidikan terhadap tersangka kasus kerusuhan Poso yang belum tertangkap. Tidak sekedar para komandan lapangan, namun para aktor intelektual yang masih bebas berkeliaran. Mendukung segala ikhtiar aparat keamanan dan aparat hukum untuk memproses dan menindaklanjuti pengusutan tersangka kasus kerusuhan Poso sampai ke tingkat pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) yang memiliki wewenang untuk menyelidiki pelanggaran HAM berdasarkan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan KOMNAS HAM, untuk segera membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM (KPP HAM) untuk kasus Poso, tidak sekedar menjadi pengamat ataupun pemantau saja. Mendesak aparat hukum dan pemerintah setempat untuk meningkatkan pelayanan, perlindungan, dan rehabilitasi terhadap korban, saksi, dan pengungsi dalam kerusuhan Poso. Mengingatkan seluruh aparat hukum, aparat pemerintah, dan segenap komponen bangsa untuk kembali konsisten pada penyelesaian hukum dalam setiap kejahatan dan pelanggaran HAM yang terjadi di tanah air Indonesia. Jakarta, 9 Agustus 2000 Heru Susetyo Koordinator Date: Mon, 14 Aug 2000 21:14:00 +0030 From: "sony suhandono" <[EMAIL PROTECTED]> ============================== MUSLIMIN POSO GUGAT KOMNAS HAM ============================== Muslimin Poso Gugat Komnas HAM Poso, Laskarjihad.or.id (07/12/2001) Kehadiran Komnas HAM di Kota Poso pada hari Rabu (5/12) mendapat perhatian besar kaum muslimin. Dalam sebuah acara pertemuan dan dialog di Gedung Wanita yang dimulai pukul 10.00 WIT, Komnas HAM nyaris tak berkutik menangkis gugatan kaum muslimin yang diajukan di muka forum. Secara umum kaum muslimin Poso menggugat keberpihakan Komnas HAM kepada kelompok Kristen yang sangat kentara. Ini bisa dilihat dari lontaran kaum muslimin, yang umumnya mempertanyakan mengapa ketika ribuan kaum muslimin dibantai, seperti pembantaian di Kilo Sembilan yang menewaskan 300-an muslimin, ketika anak-anak dicincang, wanita diperkosa, perempuan hamil dibelah perutnya, para suami dibantai, Komnas HAM tidak datang ke Poso? Kaum muslimin mempertanyakan, apakah kaum muslimin yang mati tidak dianggap manusia sehingga tidak perlu dibela? Kenapa ketika posisi pihak kristen terdesak, Komnas HAM ramai-ramai menunjukkan perhatiannya yang begitu besar? Kenapa ketika anak-anak kecil di Buyung Katedo dibantai dengan sadis, para wanita diperkosa dan dibunuh, Komnas HAM tidak terdengar suaranya? Begitulah, berbagai gugatan dan protes muncul dari kaum muslimin disebabkan adanya diskriminasi hukum yang sangat transparan. Masih panjang daftar kepedihan kaum muslimin yang tidak mendapat pembelaan dari badan yang mengatasnamakan hak asasi manusia itu. Sebaliknya, ketika pihak kristen mengalami kekalahan, tiba-tiba saja Poso mendapat perhatian besar. Tak kurang, sidang kabinet pun digelar untuk membahas situasi Poso. Sejumlah pejabat tinggi dan Komnas HAM pun langsung terjun ke lokasi untuk mencari upaya penyelesaian konflik. Padahal ketika kaum muslimin yang mengalami keterpurukan akibat ulah kristen, dunia seolah tidak ada yang tahu dan mau peduli. Itulah sebabnya konflik Poso masih terus berjalan sampai tiga tahun dan belum ada upaya berarti untuk menyelesaikannya. Pihak Komnas HAM yang diwakili Sugiri, BN Marbun, dan Andi Nurusman menyatakan bahwa Komnas HAM akan bertindak senetral-netralnya. Namun jawaban tersebut langsung dibantah oleh kaum muslimin Poso bahwa kehadiran Komnas HAM sekarang saja sudah menunjukkan ketidaknetralan. Mereka baru datang ke Poso ketika kristen terdesak, tidak dari dulu ketika kaum muslimin dibantai oleh kristen hingga mengakibatkan ribuan korban terbunuh. Formalitas Sementara itu pada pertemuan kaum muslimin dengan sejumlah menteri yang terdiri Menkopolsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Menkokesra Yusuf Kalla, Menhan Matori Abdul Jalil, Mendagri Hari Sabarno, Ka Kostrad Mayjen Songko Purnomo, Kapuspen TNI Graito Usodo, dan sejumlah pejabat daerah, membuat kaum muslimin kecewa. Pasalnya kaum muslimin tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan masalahnya kepada para menteri tersebut. Setelah didesak, hanya ada dua wakil kaum muslimin yang diberi kesempatan bicara yaitu Umar Nanga dan Imam Masjid Raya Gebangrejo. Dalam sambutannya, Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan, pihaknya mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada dunia luar kondisi di Poso. "Sulit bagi kami untuk menjelaskan kepada dunia sekarang ini yang sudah mulai bersuara apakah Indonesia sungguh-sungguh menyelesaikan masalah Poso", kata Susilo. Susilo juga mengatakan bahwa pihaknya telah menetapkan tiga langkah untuk mengatasi konflik Poso. Pertama melakukan operasi pemulihan keamanan, kedua penegakkan hukum dan ketiga melakukan rehabilitasi sosial. (ma) Copyright © 2001 Laskar Jihad ===================================== PEMIMPIN PASUKAN KRISTEN POSO DIBEKUK ===================================== Pemimpin Kelompok "Merah" Dibekuk di Poso Reporter: Iwan Triono detikcom - Jakarta, Pemimpin kelompok "Merah" otak dari pembantaian ratusan penduduk pada kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah, Fabianus Tibo (55) dibekuk dalam operasi intelejen pasukan Cinta Damai di desa Jamur Jaya kecamatan Lembo (Beteleme) Kabupaten Morowali, Selasa (25/7/2000). Seperti dikutip LKBN Antara, pimpinan Tim Satgas Operasi Cinta Damai Kapten Inf Agus Firman Yusmono didampingi Komandan Tim Penerangan Lettu Inf Agus Salim di Makorem 132 Tadulako, Rabu (26/7/2000), membenarkan tertangkapnya gembong kelompok Merah yang sangat ditakuti kelompok Putih. Kapten Firman Yuswono menjelaskan, ikhwal tertangkapnya Fabianus Tibo -bukan Cornelis Tibo seperti yang diberitakan selama ini- berawal dari laporan intelejen yang melakukan penyamaran di kawasan itu sebanyak 17 orang. Ia mengatakan, gerak-gerik Tibo mulai tercium oleh tim intelejen pada tanggal 23 Juli lalu dan setelah memastikan tempat persembunyian buronan tersebut, tim Satgas Cinta Damai melakukan penyergapan saat Tibo sedang tertidur lelap di salah satu rumah warga di desa Jamur Jaya tanpa perlawanan. Ketika Tibo di bawah ke Poso, Kapten Firman Yuswono mengatakan, pihaknya sempat dihadang massa kelompok Merah berkekuatan dua truk, namun tidak terjadi kontak senjata. Selanjutnya aparat keamanan segera membawa Tibo ke Palu dengan pengawalan ketat, dan mengamankannya di Makorem 132 Tadulako. Dari hasil pemeriksaan sementara di Makorem 132, Tadulako Tibo mengakui telah membantai sendiri 40 orang warga Poso yang tersebar ditiga desa yaitu desa Sepe Silanca Kecamatan Lage, serta Kelurahan Moengko dan Kelurahan Sayo Kecamatan Poso Kota. "Benar, saya melakukan pembantaian terhadap 40 orang warga Poso di tiga desa itu pada saat berlangsung kerusuhan," kata Tibo. Tibo juga mengakui, selain dirinya selaku komandan pasukan juga masih ada sekitar sepuluh pimpinan massa kelompok Merah yang selalu bertindak sebagai pimpinan di lapangan di antaranya Rimus dan Agustisasal Poso serta Dominggus Soares dari Flores. Ia juga menyinggung keterlibatan oknum aparat keamanan yang memberikan dukungan di lapangan saat terjadinya kerusuhan tersebut. Setelah menjalani pemeriksaaan di Makorem 132 Tadulako diserahkan ke Polda Sulteng. Kerusuhan Poso yang sudah berlangsung tiga babak itu menyebabkan 4000 rumah penduduk termasuk fasilitas umum hancur dirusak/dibakar massa dan ratusan jiwa melayang dikedua kubu yang bertikai yakni kelompok Merah dan kelompok Putih. ============================================ KISAH KORBAN SELAMAT DALAM PERMBANTAIAN POSO ============================================ Selamat dari Kekejaman Pasukan Merah Poso, Laskarjihad.or.id (01/10/2001) Seorang warga Kilo Sembilan dengan inisial T (18) mengalami langsung kerusuhan Poso Jilid III bulan Mei 2000. Kepada Laskarjihad.or.id, T mengkisahkan pengalaman pelariannya dari Pasukan Merah. Berikut penuturan T kepada Laskarjihad.or.id. Ketika pasukan merah menyerang Desa Kilo Sembilan dari pangkal desa, masyarakat disuruh ke Maliwuko yang merupakan daerah kekuasaan kristen. Tentu saja perintah ini tidak mereka setujui. Ketika di Poso Kota mulai berkobar kerusuhan, sempat ditemukan pertemuan antara tokoh-tokoh agama Islam dan Kristen di Kilo Sembilan dalam rangka perjanjian untuk tidak saling menyerang. Antara tokoh Islam pun terpecah antara yang menganjurkan melakukan persiapan perang dengan yang menganjurkan agar bersikap pasif saja. Yang terakhir ini karena berbaik sangka kepada "Pasukan Merah" bahwasanya kalau kaum muslimin tidak macam-macam pasti pasukan merah itu juga tidak akan berbuat kejam. Namun kenyataan berikutnya terjadi penyerangan oleh pasukan merah yang baru kembali dari kota. Mereka mulai membakar toko mebel milik orang jawa di sana, tetapi gagal karena dicegah massa putih. Penduduk muslim yang awam yang ketakutan mengungsi di Masjid Al-Hijrah dan pagi harinya mereka menyeberangi Sungai Poso lalu masuk ke hutan. Pada tanggal 28 Mei 2000 itulah orang merah Tentena yang kembali dari kota menyerang ke Kilo Sembilan dan melakukan pembantaian terhadap para santri di Pondok Pesantren Walisongo. Sementara rombongan T bersama sekitar 200 warga Kilo Sembilan lainnya telah sampai di hutan Lembowamo dan disergap pasukan merah yang juga telah berjaga di sana, sehingga mereka ini dikawal oleh pasukan merah bersama tiga rekan lainnya. "Tiap hari pasti ada laki-laki yang hilang," ujar T. Lama-kelamaan rombongan mereka pun terpisah, T beserta 4 anggota keluarganya, yaitu bapaknya, 2 orang anak laki-laki dan neneknya melarikan diri ke atas gunung dan sembunyi di sana. Hanya mereka yang melanjutkan perjalanan sampai ke Lembomawo. Di sana mereka digeledah oleh orang-orang merah, ayah T sempat ditelanjangi hingga hanya memakai celana pendek. Di Lembomawo itu juga T bertemu dengan rombongan pengungsi Kilo Sembilan yang lain, salah seorang laki-laki (muslim) dari mereka ada yang diikat, dipukul, ditendang dan dipaksa agar mengakui bahwa dia termasuk pelaku pembakaran gereja di Poso Kota . Demikian pula ayah T dituduh dengan hal yang sama. Ayah T pada waktu itu berkata, "Tidak Pak, Kami tidak tahu apa-apa, kerja saya hanya berkebun". T menangis melihat bapaknya diikat dan di bawa oleh mereka. Salah seorang merah mengatakan, "Jangan takut, bapakmu tidak diapa-apakan, Cuma ditanya-tanya saja". Sampai di antara mereka ada seorang wanita kerabat keluarga T yang beragama kristen, berinisial Ibu R, yang membawa keluarga T ke Asrama Kompi Kawua. Di sana mereka bertemu dengan pengungsi lainnya dan masing-masing berbagi cerita tentang kemalangan mereka. Di antara pengalaman mereka misalnya ada diantara wanita-wanita muslim yang ditelanjangi dan jadi bahan ejekan para kuffar, ada yang disiksa, dan lain sebagainya. Di asrama itu pula T menyadari bahwa kalau bapaknya sudah tidak ada harapan hidup lagi. Setelah beberapa lama tinggal di asrama tersebut, T dipindahkan ke pengungsian Palu yang lebih aman. (ad/ma) Copyright © 2001 Laskar Jihad ============================== MAYAT RATUSAN MUSLIM DITEMUKAN ============================== Sudah Ratusan Mayat Muslim Berhasil Ditemukan Jakarta, LaskarJihad.or.id (26/12/2001) Selama kurun waktu Mei 2000 hingga awal Desember 2001 Tim Evakuasi Pencari Fakta Korban Muslim Kerusuhan Poso berhasil mengevakuasi 840 mayat umat Islam korban konflik agama di Poso. Mereka ditemukan dari berbagai lokasi yang berbeda. "Korban tewas terakhir yang kami temukan tiga warga Toyado yang diculik awal Desember tahun ini," kata Koordinator Tim Evakuasi Pencari Fakta Korban Muslim Kerusuhan Poso, Jabar As-Salam kepada Antara di Palu, Senin (24/12). As-Salam mengatakan pihaknya menduga mayat umat Islam korban kerusuhan di Poso yang sudah berlangsung tiga tahun itu masih banyak yang belum ditemukan. Ini karena lokasi bentrokan kedua kubu yang bertikai relatif cukup luas dan sporadis. "Apalagi masih banyak laporan masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya dan belum berhasil kami pecahkan kasusnya," katanya, seraya menambahkan laporan tersebut jumlahnya mencapai ratusan orang. Lokasi penemuan mayat oleh tim evakuasi muslim Poso antara lain Sungai Poso, rawa-rawa dan pinggiran hutan di sekitar kota Poso. Umumnya kondisi mayat yang ditemukan mengenaskan, antara lain kepala hilang dan tubuh disayat-sayat. As-Salam mengatakan pihaknya akan terus melancarkan pencarian mayat umat muslim dengan sasaran operasi semua lokasi yang dicurigai sebagai tempat pembantaian yang dilakukan kelompok lawan. "Kami akan terus melakukan pencarian mayat umat muslim korban pembantaian di Poso hingga semuanya ditemukan," ujarnya. Laporan korban meninggal dunia versi pemerintah setempat yang ditemukan hingga tanggal 5 Desember 2001 sebanyak 577 orang (lima di antaranya PNS), luka berat 245 dan luka ringan 139. Bangunan yang terbakar terdiri atas 83 unit rumah ibadah (masjid, gereja dan pura). Sedangkan rumah penduduk yang terbakar 7.932 unit, rusak berat 1.378, rusak ringan 690, dan fasilitas umum yang terbakar/rusak berat maupun ringan 510 unit. Taksiran sementara kerugian materil akibat konflik ini sudah mencapai Rp 300 miliar.(RoL) Copyright © 2001 Laskar Jihad